MARKETEERSPESTA BLOGGER 2010WAN IFRA
Kompasiana
Kamis, 19 Mei 2011

Edukasi

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Eky Santiago

Seorang geografer freelance yang sedang belajar menulis. Berusaha membagikan pikiran kepada warga kompasiana, walaupun dengan keterbatasan dalam menyampaikan isi pikiran melalui tulisan-tulisan yang ada.

Pembentukan Karakter Versus Pragmatisme Pendidikan

OPINI | 11 May 2011 | 17:03 18 1 1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif

Oleh : Yermia Riezky Santiago*

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki karakter. Karakter bangsa dibentuk dari proses yang membentuk kualitas individu-individu suatu bangsa. Namun, pembentukan karakter saat ini semakin tergerus oleh budaya pragmatis. Pragmatisme juga telah merasuki dunia pendidikan kita saat murid hanya diarahkan untuk lulus dalam Ujian Nasional (UN).

Ujian Nasional menjadi polemik dunia pendidikan nasional sejak ditetapkannya standar nilai kelulusan. Sekolah-sekolah terfokus meluluskan siswanya dengan nilai yang baik. Meskipun dalam prosesnya sekolah mulai menjauhi tujuan sebagai sarana pembentukan karakter calon penerus bangsa. Sampai-sampai, menurut Slamet Sutrisno (KR, 28/04/2011), demi pencapaian hasil, sekolah-sekolah menjalin kerja sama dengan lembaga bimbingan tes demi membantu siswa di banyak sekolah melapaui standar kelulusan UN.

Jika ini terus terjadi, kita perlu bertanya. Untuk apa murid-murid masuk ke lembaga sekolah kalau bimbingan tes lebih dipercaya membantu kelulusan di UN? Apa fungsi guru di sekolah kalau para pengajar di bimbingan tes, yang mayoritas bukan guru, lebih dipercaya membantu murid lulus dalam UN?

Citra dan Tuntutan Sekolah

Budaya pragmatis identik pada pencapaian hasil dengan mengesampingkan proses. Demi pencapaian hasil, segala cara dilakukan. Tidak peduli apakah caranya menabrak norma-norma yang berlaku di masyarakat. Tidak jarang, demi hasil, banyak orang harus disisihkan dalam kompetisi yang tidak sehat.

Saat sekolah berfokus pada metode penyelesaian soal atau bahkan mengandalkan lembaga bimbingan belajar, sekolah masuk dalam jebakan pragmatisme pendidikan. Lebih parah, sekolah mulai melupakan tujuan pendidikan yang tidak hanya mengasah keterampilan berpikir, namun lebih dari itu, untuk membentuk karakter para calon penerus bangsa.

Dalam dunia pendidikan, khususnya sekolah, sikap pragmatis yang muncul merupakan reaksi sekolah akan tuntutan kelulusan dalam UN. Citra sekolah tercoreng jika ada muridnya yang tidak lulus UN. Orangtua akan berang saat sekolah tidak mampu meluluskan anak-anak mereka dalam UN. Mereka tidak mau menanggung malu karena kegagalan sang anak.

Demi menjaga martabat dan memenuhi tuntutan orangtua siswa, sekolah pun mengambil jalan pintas memfokuskan pada metode menjawab soal. Bahkan, sekolah menggadaikan integritasnya dengan mendongkrak nilai. Menurut Dr. Hermayawati MPd. (KR, 23/4/2011), sekolah mendongrak nilai di ranah ujian lain seperti ujian sekolah, ujian semester, dan ujian formatif. Ini karena kekhawatiran sekolah akan kegagalan siswa dalam UN yang semakin mengingkat standar kelulusannya.

Harus disadari bahwa hidup anak bukan sekedar mejawab soal. Sejatinya, pendidikan di sekolah merupakan alat pembentukan karakter anak. Pendidikan di sekolah menjadi sarana aktualisasi diri melalui pengembangan keterampilan dan bakat, mengenal dan menjalankan nilai-nilai hidup dalam masyarakat, menemukan cita-cita serta berusaha untuk menggapainya. Beberapa hal tersebut adalah sarana membentuk karakter kuat, dan hanya dengan karakter yang kuatlah bangsa ini dapat menatap masa depan cerah.

Contoh konkrit pentingnya karakter bagi bangsa dapat dilihat dari para pendiri bangsa. Para pendiri bangsa adalah para persona yang memiliki karakter dan semangat juang. Karakter para pendiri bangsa telah membantu perjuangan mereka. Tidak ada kata menyerah walaupun dihadapkan pada todongan senjata, penjara, atau pengasingan. Jelaslah karakter kuat itu dibentuk melalui proses yang panjang, termasuk melalui pendidikan di sekolah yang saat itu mereka tempuh dengan pengorbanan yang tidak sedikit.

Manusia yang tanpa karakter akan menjadi manusia yang lemah semangat juangnya dan sukar menerima kegagalan. Ketakutan akan kegagalan mendorongnya melakukan tindakan-tindakan pragmatis. Jika terjadi dalam skala masif, hal ini merupakan tanda bahaya bagi negara. Karena akan terjadi saling sikut dan saling makan antar anak bangsa yang dididik dalam sistem pendidikan pragmatis.

Mengembalikan Makna Pendidikan

Mengembalikan makna pendidikan di sekolah sebagai sarana pembentukan karakter dan menghentikan gerusan pragmatisme harus dilakukan pihak-pihak yang terlibat. Mereka adalah pemerintah, sekolah, dan orangtua.

Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional harus meninjau kembali fungsi UN. Ini telah lama diteriakkan berbagai elemen masyarakat. UN tidak harus menjadi faktor dominan penentu kelulusan siswa. Bagi lulusan SD dan SMP, nilai UN dapat digunakan untuk masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya. Sedangkan hasil UN SMA digunakan sebagai bahan dasar pemetaan kualitas pendidikan.

Pihak sekolah perlu mengembalikan fungsi sekolah sebagai sarana pembentukan karakter anak, selain mengembangkan kemampuan berpikir. Anak dilatih untuk mengembangkan bakat, menemukan cita-cita, dan semangat pantang menyerah dalam menggapai cita-citanya. Hasil ujian dapat dimanipulasi, tapi karakter bernilai abadi. Manipulasi dapat meluluskan anak, tapi karakterlah yang menentukan anak dapat bertahan di jenjang selanjutnya.

Bagi orangtua, harus dipahami bahwa pendidikan sekolah adalah sarana pencapaian cita-cita anak. Cita-cita dapat dicapai dengan karakter yang kuat. Perhatian orangtua pada anak diperlukan agar orangtua mengerti kondisi anak, sehingga dapat bekerjasama dengan pihak sekolah demi pertumbuhan dan perkembangan anak.

*Geografer lepas, pernah bekerja di LSM anak, World Vision Indonesia.


Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Amans Hotel, Ambon

SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2011